Terima kasih atas kunjungan anda !!!

Friday, October 3, 2008

SelaMaT HaRi RaYa IeDuL FiTRi 1429 H


Monday, September 29, 2008

Puasa, Mudik dan Lebaran


Tak terasa Ramadhan 1429 H tinggal beberapa hari lagi dan kini 1 syawal menjelang. Bagi sebagian orang inilah saat-saat yang sangat dinanti dan istimewa karena sebentar lagi pintu kemenangan akan terbuka dan kita akan terlahir kembali sebagai insan yang fitri. Namun untuk sebagian yang lain penghujung ramadhan seperti saat sekarang ini, diartikan sebagai detik-detik perpisahan yang mengharukan karena belum tentu Allah SWT mempertemukan kita dengan ramadhan-Nya di tahun-tahun mendatang. Ramadhan dan Iedul fitri memang akan selalu datang dan terulang tiap tahunnya namun tak satupun dari kita yang mengetahui rahasia Allah Azza Wajalla. Wallahu alam bishawab. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam kebaikan dan kelak bertemu lagi dengan ramadhan dan Iedul fitri 1430 H yang akan datang . Insya Allah, Amin


Bagi sebagian warga Indonesia, momen Iedul fitri atau lebaran merupakan saat yang paling tepat untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga. Tradisi pulang kampung yang disebut mudik ini seolah menjadi agenda rutin bagi para perantau dimanapun mereka mengais rezeki, sehingga tidak mengherankan mereka rela memenuhi dan berdesak-desakan di loket-loket pembelian tiket, pelabuhan, stasiun kereta api, terminal-terminal bus sampai di bandara udara. Lonjakan penumpang yang terkadang over capacity ditambah masih buruknya angkutan publik di tanah air menyebabkan angka kecelakaan tiap tahun juga meningkat secara signifikan. Tak ayal inilah resiko yang mesti dihadapi oleh para pemudik. Luapan kegembiraan ketika akan mudik ke kampung halaman terkadang harus berakhir di rumah sakit karena kecelakan yang sulit dihindari. Beberapa hari yang lalu misalnya, kecelakaan kapal laut terjadi perairan Seram bagian barat, Maluku dan menewaskan 7 orang penumpang. Ini belum termasuk kereta api yang anjlok serta kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan raya. Singkatnya mudik tidak hanya menyisahkan kebahagian karena bisa bersua dengan keluarga tercinta tapi juga meninggalkan duka bagi mereka yang menjadi korban.

Iedul Fitri merupakan satu dari hari raya bagi ummat muslim. Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Allah memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Sebagaimana 1 ramadhan maka penentuan 1 syawal sebagai hari raya eidul fitri juga sarat dengan kontroversi, bahkan setiap tahun ummat islam di Indonesia yang memang terkenal multikultur dan beragam seringkali berbeda dalam penentuan awal puasa dan lebaran. Hal ini dikaitkan dengan tingkat pemahaman ilmu syari’ yang berujung pada penggunaan metode yang digunakan. Secara umum penentuan 1 ramadhan dan 1 syawal dibagi dalam dua metode ; hisab dan rukyat. Beberapa ormas islam lebih cenderung menggunakan hisab sehingga mereka tidak perlu menunggu “hilal” atau melihat hilal 29 syahban untuk menentukan 1 ramadhan atau melihat hilal 29 ramadhan untuk menentukan 1 syawal. Hisab sejatinya adalah menghitung sedangkan makna rukyat adalah melihat sehingga kata “rukyatul hilal” mengacu kepada melihat hilal.

Sebenarnya jika kita mencermati dalil-dalil baik yang mendukung hisab maupun rukyat, maka insya Allah kita akan mudah untuk menentukan yang mana yang shahih dan kuat. Apalagi dalil-dalil tersebut telah didukung oleh fatwa para ulama seperti ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziah. Namun sebagian diantara kita tidak terlalu mempersoalkan dalil mana yang kemudian menjadi landasan pemahaman kedua metode tersebut. “Kalau pak kyai atau pak ustad sudah mengatakan itu, maka kita ikut saja” begitu respon yang terkadang kita dengar dari masyarakat kita. Hal inilah yang memungkinkan Jemaah Al Muhdhor di Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, telah merayakan Iedul fitri hari ahad kemarin dan jamaah Naqsyabandiah yang justru hari ini berlebaran ria.

Namun terlepas dari polemik dan fenomena antara puasa, mudik, dan lebaran kita hanya berharap kepada Allah yang maha Rahman, semoga tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan makna dan semakin menjadikan kita sebagai manusia-manusia yang sabar, tawadhu dan semakin mantap menjalani hidup.

Yaa Allah berikanlah kami petunjuk dan golongkan kami pada golongan hamba-hamba-Mu yang mendapat hidayah.

Taqqabballahu minna wa minkum. Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillah Hilham. Selamat hari raya Iedul Fitri 1429 H


Monday, September 15, 2008

رمضان

Ramadhan or in Arabic (called رمضان, Ramaḍhān) is a Muslim religious observance that takes place during the ninth month of the Islamic calendar, believed to be the month in which the Qur'an was revealed to Angel Jibril to deliver it to Prophet Muhammad. It is the Islamic month of fasting (sawm), in which participating Muslims do not eat or drink anything from dawn until sunset. Fasting is meant to teach the person patience, sacrifice and humility. Ramadan is a time to fast for the sake of God, and to offer more prayer than usual. During Ramadan Muslims ask forgiveness for past sins, pray for guidance into the future, ask for help in refraining from everyday evils and try to purify themselves through self-restraint and good deeds. The name "Ramadan" is the name of the ninth month; the word itself derived from an Arabic word *rmd as in "ramida" or "ar-ramad" denoting intense heat, scorched ground and shortness of rations. It is considered the most venerated and blessed month of the Islamic year. Prayers, sawm (fasting), charity, and self-accountability are especially stressed at this time; religious observances associated with Ramadan are kept throughout the month.

The most prominent event of this month is the fasting (sawm) which should be practiced by all Muslims. Every day during the Blessed month of Ramadan Muslims around the world get up before dawn to eat Suhoor, the pre-dawn meal, and perform the fajr prayer. They do not eat or drink anything after this prayer is said, until the fourth prayer of the day, Maghrib (sunset), is due. Muslims may continue to eat and drink after the sun has set, until the next morning's fajr prayer. During Ramadan, Muslims are expected to put more effort into following the teachings of Islam and to avoid obscene and irreligious sights and sounds. Sexual thoughts and activities during fasting hours are also forbidden.[Qur'an 2:187] Purity of both thought and action is important. The fast is intended to be an exacting act of deep personal worship in which Muslims seek a raised level of closeness to God. The act of fasting is said to redirect the heart away from worldly activities, its purpose being to cleanse the inner soul and free it from harm. Properly observing the fast is supposed to induce a comfortable feeling of peace and calm. It also allows Muslims to practice self-discipline, sacrifice, and sympathy for those who are less fortunate. It is also intended to make Muslims more generous and charitable.

Laylat al-Qadr (Arabic: لیلة القدر) literally the "Night of Decrees" or "Night of Measures", is the anniversary of two very important dates in Islam that occurred in the month of Ramadan. Muslims believe that it was the night in which the Qur'an was revealed from God to Samaa Adunya (the sky of the world we live in). The Qur'an was revealed over many years to the Prophet. Muslims believe that any acts of worship undertaken on this night are rewarded in multiple thousands in comparison to the same act of worship done on any other day. There are two schools of thought on date of this event. Some Muslims are of the opinion that it lands on the 27th night of Ramadan while others believe that it may be any one of the last odd nights.
The Islamic holiday of Eid ul-Fitr (Arabic: عيد الفطر) marks the end of the fasting period of Ramadan and the first day of the following month, after another new moon has been sighted. The Eid falls after 29 or 30 days of fasting, as per the lunar sighting. Eid ul-Fitr means the Festival of Breaking the Fast; a special celebration is made. Food is donated to the poor (‘Zakat al-Fitr’), everyone puts on their best, usually new, clothes, and communal prayers are held in the early morning, followed by feasting and visiting relatives and friends. The prayer is two rakaahs only, and it is an optional prayer as opposed to the compulsory five daily prayers. Muslims are encouraged to fast six days in Shawwal, the month following Ramadan that begins after Eid ul-Fitr; these days need not be consecutive. According to hadith, one who fasts the month of Ramadan and six days during Shawwal will be rewarded as though he fasted the entire year.

Friday, September 5, 2008

Ramadhan dan Penanggalan Hijriah

Waktu memang bergulir dengan cepat dan kini bulan Ramadhan kembali hadir di penanggalan 1429 Hijriah. Alhamdulillahi rabbil alamin. Puji syukur kehadirat-Mu yaa Rabbi Engkau pertemukan lagi dengan Ramadhan-Mu yang penuh berkah. Bulan yang oleh nabi dan para sahabatnya sangat dinantikan sehingga ketika ia datang maka mereka menyambutnya dengan suka cita. Marhaban Yaa Ramadhan. Jika kita membahas ramadhan maka bulan yang di didalamnya terdapat malam lailatul Qadr itu memiliki sejarah tersendiri. Ramadhan sendiri adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah.


Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Nama-nama bulan Hijriah

1. Muharram
2. Safar
3. Rabiul awal
4. Rabiul akhir
5. Jumadil awal
6. Jumadil akhir
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulkaidah
12. Dzulhijjah

Nama-nama hari

Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:

1. al-Ahad (Minggu)
2. al-Itsnayn (Senin)
3. ats-Tsalaatsa' (Selasa)
4. al-Arba'aa / ar-Raabi' (Rabu)
5. al-Khamiis (Kamis)
6. al-Jum'aat (Jum'at)
7. as-Sabt (Sabtu)



Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Namun demikian, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah. Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi). Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka'bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).